Monday, May 28, 2018

[REVIEW BUKU] Mengapa Aktivis Menghilang Setelah Menikah?


Judul Buku                  : Mengapa Aktivis Menghilang Setelah Menikah?
Penulis                         : Gandring A.S.
Penerbit                       : Pustaka Saga
Jumlah Halaman          : 173h
Tahun Terbit                : 2018

Harga                          : Rp. 45.000

Untuk orang-orang yang telah bergelut dalam dunia aktivisme pasti sudah sering melihat betapa banyak jiwa-jiwa yang dulu penuh dengan kobaran api semangat pergerakan tetapi ketika menapaki gerbang pernikahan perlahan tapi pasti kontribusinya di dunia aktivisme mulai meredup bahkan hingga padam. Tidak menutup kenyataan bahwa hal ini juga sering terjadi kepada mereka sang aktivis dakwah.
Mulai dari kesibukan mencari pundi-pundi materi untuk menafkahi keluarga, permasalahan-permasalahan internal keluarga, tidak adanya waktu luang dan sebagainya selalu menjadi alasan. Alasan-alasan klasik ini sering kita dengar dari kalangan-kalangan aktivis yang sudah menikah. Baik ketika diminta menjadi pemateri dalam agenda kajian organisasi, atau menjadi musyrif dalam agenda bermalam bahkan ketika hanya diminta untuk sekedar sharing  dan transfer ide-ide untuk keberlangsungan organisasi.
Padahal seharusnya menikah itu menguatkan perjuangan dakwah, karena cinta itu seyogyanya menggerakkan bukan melumpuhkan. Begitulah setidaknya Ust Cahyadi Takariawan di kalimat pengantar buku ini mengatakan bagaimana seharusnya cinta itu diolah oleh seorang aktivis.

Permintaanku wahai kekasih
Selalu bersama-sama
Di ruang dan waktu
Tak berjarak meski Cuma sehelai rambut
Kalau jauuh dekat di hati
Kalau dekat berpandangan
Begitu sejatinya asmara
Seperti mimi dan mintuno
Ayo bersama melakukan sosial

Sebuah puisi dari Sujiwo Tejo menjadi pembuka pada bagian pertama dalam buku ini. Pada bagian ini penulis banyak membahas tentang Cinta. Bagaimana rasa cinta kita terhadap keluarga membuat kita semakin memperkuat semangat juang kita, kehadiran mereka menjadi katalisator dalam roda perjuangan kita bukan justru menjadi penghambat bahkan menjadi penghalang.
Ternyata rasa Cinta juga yang mengakibatkan banyak aktivis dakwah mulai berguguran di jalan dakwahnya setelah menikah. Karena mereka salah menafsirkan cinta.
Di setiap bagian pembahasan Mas Gandring selalu menyelipkan tokoh-tokoh yang dijadikan sebagai role modelnya. Mulai dari tokoh-tokoh fiksi seperti Don Corleone, hingga tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pergerakan dakwah Islam seperti Soekarno, Hasan Al Banna hingga Kartini. Di bagian ini beliau mengambil kisah Bung Karno dan Bu Inggit sebagai role model, Rumah tangga mereka adalah rumah pergerakan, cinta mereka tidak hanya dirasakan oleh mereka berdua saja, tetapi justru dirasakan oleh para aktivis saat itu. Para pemuda saat itu sangat senang menghabiskan waktu mereka di rumah Bung Karno untuk berdiskusi. Rumah produktif ini lah buah dari cinta inklusif mereka.
Pertanyaan-pertanyaan saya dahulu tentang alasan mengapa banyak aktivis menghilang setelah menikah perlahan tapi pasti mulai terjawab ketika membaca bagian pertama buku ini, siapa yang menyangka ternyata ‘bibit’ kehilangan aktivis itu bisa terbenih bahkan sebelum kita mengucap ijab qabul. Mengapa? Mas Gandring menjelaskan jawabannya dengan jelas di bagian pertama sehingga ketika membaca  bab ini saya terlalu sering mengucapkan kalimat ‘iya juga yah’.
Di bagian kedua dari buku ini, mas Gandring memulainya dengan sepotong ayat Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 55. Yang tentu lekat dengan pembahasan ujian kehidupan. Seperti diawal yang saya katakan, salah satu alasan klasik para aktivis yang mulai redup dalam jalan perjuangannya dikarenakan masalah finansial. Mereka kini terlalu fokus untuk memapankan kondisi perekonomian mereka daripada ikut berkontribusi menjadi roda-roda penggerak peradaban.
Amal-amal di jalan dakwah inilah yang akan menolong kita di hari akhir kelak. Fadhilah-fahilah ini begitu menyemangati kita masa kampus dulu, barangkali paradigma kita saat itu masihlah paradigma waktu adalah pedang. Tapi hari ini, ketika kesibukan kerja dan membersamai keluarga membuat kita lalai dari kewajiban berdakwah kita, jangan-jangan paradigma kita hari ini sudah berubah menjadi time is money? Kalimat tersebut adalah kalimat paling ‘menampar’ yang saya temukan dalam bagian kedua dari buku ini.
Lagi-lagi disini Mas Gandring menjawab mitos ‘aktivis mapan’ itu dengan kisah salah seorang tokoh perjuangan kemerdekaan yaitu Haji Agus Salim. Meskipun beliau adalah seorang tokoh besar, ternyata beliau hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan dan selalu berpindah-pindah. Tetapi rumah beliau selalu menjadi tempat untuk para pemuda berdiskusi dan menjadikkannya tempat sharing dan belajar. Bisakah kita belajar dari beliau yang lebih sibuk menghidupkan rumah kontrakannya dengan kerja-kerja peradaban dari pada sibuk mengumpulkan uang untuk membayar uang membayar cicilan kredit rumah?
Di bagian ini mas Gandring juga menawarkan beberapa pekerjaan strategis yang dapat menjadi kobaran api semangat aktivisme  dan berpeluang untuk mensupport kerja gerakan. Selain itu, bagian ini juga membahas bagaimana daya mobilitas kader dan keuangan juga menjadi alasan krusial kader dalam keberlangsungan dakwah gerakan.
Pada bagian ketiga ini menurut saya mas Gandring mengelompokkan pembahasan ‘ujian’ dari pihak eksternal ketika menghilangnya  seorang aktivis setelah menikah, setelah di bagian sebelumnya membahas ujian dari internal aktivis itu sendiri yaitu cinta dan ketidakmapanan finansial dan mobilitas diri seorang aktivis.  Ada banyak stigma miring terhadap aktivis, mulai dari nilai  akademik yang anjlok, wisuda yang tidak tepat waktu, hingga tidak adanya restu dari orang tua atau keluarga untuk mengikuti agenda-agenda gerakan. Alasan-alasan tersebut dijelaskan oleh mas Gandring dengan sangat jelas, tetapi bukan hanya sekedar penjelasan alasan saja. Di buku ini mas Gandring juga memberikan solusi-solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
Bagian keempat ini menurut saya adalah bagian yang paling istimewa, karena pada bagian ini membahas tentang kerja peradaban bagi seorang wanita. Seperti yang kita ketahui, ruang gerak seorang wanita akan terasa semakin sempit dan terbatas ketika mereka sudah menikah. Mulai dari dikarenakan  mengurus suami, keperluan dapur, membersihkan rumah dan merawat anak-anak mereka.
Mas Gandring memilih Kartini untuk menjadi role model dalam pembahasan ini, padahal menurut saya alangkah lebih bagus jika Ustadzah Yoyoh Yusroh dijadikan role model dalam pembahasan  aktivis wanita dalam pergerakan di buku ini.
Menjadi seorang wanita yang sudah menikah bukan berarti tidak bisa ikut berjuang dalam pembangunan peradaban. Seperti yang kita tahu, Ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Di tangannyalah tempahan seorang pahlawan peradaban itu berada. Wanita tidak harus menjadi frontliner dalam perjuangan, ia bahkan lebih sering berada dibalik layar kemenangan perjuangan itu. Perjuangan dakwah itu tak boleh berhenti, yang boleh hanyalah perpindahan dimensi dakwah.
Di bagian terakhir buku ini, Mas Gandring membahas bagaimana sebuah memori perjuangan dahulu dapat mengembalikan kerinduan dan kobaran semangat untuk berjuang kembali di jalan perjuangan. Untuk mereka yang tidak futur di jalan dakwah ini, doakanlah saudara-saudaramu diluar sana yang mungkin dengan doamu insyaAllah mereka kembali ke dekapan ukhuwah dalam dakwah ini. Saya rasa tepat sekali jika penulis meletakkan sebuah doa ukhuwah paling indah yaitu doa Rabithoh di akhir halaman buku ini.
Buku ini cocok untuk dibaca oleh para aktivis baik yang sudah menikah ataupun belum menikah. Untuk yang sudah menikah bisa dijadikan sebuah bacaan muhasabah diri jika selama ini setelah kita menikah ternyata kontribusi kita terhadap dakwah telah meredup bahkan padam. Dan bagi yang belum menikah buku ini cocok untuk dijadikan sebagai pembekalan sebelum menikah, agar ketika sudah menikah kita tetap berkontribusi terhadap dakwah walaupun berpindah dimensi.

Tidak banyak kritik saya terhadap buku ini, selain hanya adanya kesalahan penulisan dan ketidakrapian di beberapa bagian yang cukup menganggu. Selebihnya buku ini cukup bagus untuk dibaca siapa saja, Karena penggunaan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Friday, April 27, 2018

Anak dari Rasa Syukur



Pernahkah kita merasa biasa saja ketika melihat orang kaya bergelimang harta, tetapi merasa kagum pada dia yang hidupnya sederhana? Atau Sebaliknya, kita terkagum-kagum pada orang yang mempunya jabatan strategis, anak-anak cerdas, istri cantik parasnya. Dan merasa euwww terhadap dia yang hidupnya pas-pasan.

Taukah kamu apa yang mempengaruhi fikiranmu itu?

S U D U T   P A N D A N G

Bisa jadi walaupun kamu bergelimang harta, mempunyai jabatan strategis, anak-anak cerdas, teman-teman hits tapi ternyata ada orang-orang menganggap kamu tidak sukses.

Karena gelimangan hartamu ternyata kau pergunakan di jalan yang salah, jabatan strategismu kau gunakan untuk mendulang lagi harta-harta kotor mu. Anak-anakmu yang cerdas ternyata terlena dengan kecerdasannya. Dan ternyata semua kenikmatan yang kau punya bak batu besar diujung tali yang semakin menyeretmu ke lubang kehinaan.

Orang-orang yang berilmu lagi beriman melihatmu tidak dalam kesuksesan. Karna hakikatnya memang begitu.

Di sisi lain, ternyata ada dia yang hidupnya sederhana. Hidup dalam kecukupan, jangankan gelimangan harta, anak pun ia tak ada. Tapi entah mengapa hidupnya lebih terasa manis bak madu.
Sederhana, selalu merasa cukup bukan berarti ia tidak pernah bekerja keras dan mempunyai mimpi-mimpi besar.

Tapi ada satu hal yang tumbuh subur di segumpal daging miliknya.

R A S A   S Y U K U R

Sadarkah kita bahwa rasa yang terlihat sepele itu dapat mengubah cara berfikirmu, sudut pandangmu, orientasimu. Ketika yang lain berambisi dengan duniawi, dan ternyata kau selalu merasa cukup akan duniawi dan haus akan hal-hal ukhrawi.

Itu semua tergantung sudut pandangmu. Sudut pandangmu lah yang akan merubah orientasi hidupmu.

Tapi sudut pandangmu tergantung tingkat keimananmu dan keilmuanmu.

Monday, April 9, 2018

Kehilangan - Sebuah Catatan Penguatan Diri

Sebuah catatan singkat penguatan diri dan hati saat kehilangan. 

Kehilangan mengajarkan kita banyak hal, keikhlasan, ketidakberdayaan bahkan kehilangan dapat menguji sejauh mana keyakinan kita terhadapNya bahwa Ia akan mengganti sesuatu yang hilang itu dengan yang lebih baik. 

Karena benar bahwa Ia lebih mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita.

Kehilangan juga mengajarkan kita bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang benar-benar menjadi hak milik kita seutuhnya.

Akan ada yang benar-benar hilang, atau malah akan berpindah tangan. 

Tapi satu hal,

Kita boleh tidak menyesal ketika kehilangan sesuatu apalagi yang bersifat duniawi, tapi jangan sampai kita merasa 'baik-baik' saja ketika kehilangan keimanan terhadapNya dan hidayah dariNya.

 Na'udzubillahi min dzalik

Tuesday, March 20, 2018

Menikmati Peran


Ada beberapa orang yang tidak dapat mengungkapkan sesuatu dengan menarasikannya dengan baik. Ada juga beberapa orang yang tidak dapat memvisualisasikan ungkapannya dengan baik.

Di antara mereka mana yang lebih baik?

Keduanya sama-sama baik, tiap kita punya potensi dan kelebihan masing-masing. Jangan berkecil hati ketika kamu tidak mahir dalam berbicara di hadapan orang banyak. Toh kamu masih bisa mengungkapkannya dengan penamu baik dengan menulis ataupun mevisualisasikannya dalam bentuk gambar.

Juga sebaliknya jangan berkecil hati ketika kamu adalah orang yang suka dan senang berbicara di hadapan banyak orang, tetapi tidak mahir dalam mevisualisasikannya dalam bentuk tulisan dan lukisan.

Tetapi tidak menutup kemungkinan jika kamu bisa keduanya, karena potensi itu bisa digali guys, semakin kamu sering berlatih dan terus konsisten maka potensi-potensi terselubung kamu akan semakin 'show up' dan dapat menjadikan kamu seseorang yang multitalent.

Ibarat  ketika produksi komik,
Ada komikus yang bisa membuat gambar dan script dari komik tersebut sekaligus. Tetapi ada juga komikus yang mereka butuh script dari orang lain. Butuh ide cerita dari orang lain.

Sebaliknya juga, ada orang yg pandai menulis atau membuat rangkaian cerita tetapi mereka tidak bisa memvisualisasikannya dalam bentuk gambar. 

Apa yang harus dilakukan?

K O L A B O R A S I

Yaps, dunia kita ini dunia kolaborasi guys, dimana semuanya saling menyempurnakan terhadap yang lainnya. Peran yang satu menyempurnakan peran yang lainnya.

Bayangkan kalau mobil isinya setir semua ga ada roda, ga ada rem, ga ada gas, ga ada ban, ga ada baut dll.  Jadinya ga berguna! (Apalagi ada kamu ga ada aku)

Tugas kita cuman menikmati dan memaksimalkan peran kita walaupun peran kita hanya diibaratkan sebuah baut kecil,  ga perlu iri terhadap peran yang orang lain mainkan.

Bayangkan aja apa yang terjadi ketika baut baut kecil itu tidak ada? Apakah sempurna?

Selamat menikmati peran masing-masing
Upemaw, 2018

Sunday, January 21, 2018

REVIEW - Aplikasi Yawme


Assalamu'alaikum wankawan.

Nah kemaren aku pernah ngereview salah satu aplikasi android semacam Mutabaah Yaumiyah di instastory aku.

Buat kamu yang kemaren belum nyimak reviewnya, aku bakalan kasih reviewnya lagi disini.


Jadi nama aplikasinya itu YAWME, aplikasi ini adalah aplikasi personal assistant yang nantinya bakalan membantu kamu untuk memenuhi target-target ibadah harian kamu. Sebelumnya aku juga pernah pakai aplikasi mutabaah yaumiyah dari Badr Interactive, tapi fitur dan tampilannya belum se-ketje ini dulunya hehe

Hal yang terpenting saat menggunakan aplikasi ini adalah kamu harus konsisten atau istiqomah baik dalam hal pelaksanaan ibadah dan pelaporan di aplikasi.

Tampilan awal setelah kamu log in ke aplikasi
Untuk masuk ke aplikasi Yawme kamu harus log in menggunakan akun Goole atau akun Facebook.

Tampilan Home
Di menu Home ini lah kamu bisa melaporkan seluruh aktivitas ibadah kamu nantinya.

Untuk mengatur ibadah-ibadah apa saja yang akan kamu jadikan sebagai targetan ibadah kamu, kamu bisa klik icon berbentuk pena dan kertas di sudut kanan paling atas layar. Nanti akan muncul tampilan seperti ini

Tempat kamu mengelola aktivitas apa aja yang dijadikan amalan yaumiyah
Nah, kalau disebelahnya ada icon gembok itu berarti aktivitas itu sudah ada di List Amalan Yaumiyah kamu, kalau belum ada tinggal kamu centang kolom checklistnya.  Kalau udah selesai klik tombol Ubah Aktivitas.

Di YAWME ini juga ada fitur Grupnya, jadi kamu bisa mengevaluasi ibadah harian kamu bareng kelompok atau orang-orang terdekatmu. Makin semangat dong buat berlomba dalam kebaikan, asal kita tetap jaga niat kita😊

Fitur ini cocok banget buat kamu yang punya 'lingkaran' atau grup Liqo/Halaqah. 

Tampilan menu grup
Di dalamnya juga ada menu Leaderboard loh

Setiap grup di YAWME privasinya bisa dijadikan publik atau private. Kalau kamu mau invite teman kamu ke grup bisa langsung pakai kode grup kamu.

Ini adalah grup-grup publik
Nah grup publik ini dapat memungkin kamu untuk berlomba dalam beribadah dengan orang-orang yang baru yang sesuai denganmu. Mulai dari komunitas, organisasi dll.
Tampilan menu profil
Di menu profil ini kamu bisa lihat rekapan hasil targetan ibadah kamu, bisa perpekan atau perbulan.
Ada level-levelnya juga loh, semakin banyak poin kamu maka semakin tinggi level kamu.


Nah itu dia sedikit review aku buat aplikasi YAWME, semoga bermanfaat buat wankawan sekalian. Semoga kedepannya kita lebih bersemangat dalam beribadah dan semakin konsisten!

Kamu bisa langsung download aplikasi YAWME ANDROID DISINI atau IOS DISINI

Wednesday, January 17, 2018

Geng "Kak Folback Dong"


Folback kakaaaaa....
Folback ya..

Kalian sering ga dapat pernyataan kaya gini? atau ternyata kalian menjadi bagian dari orang-orang yang suka buat pernyataan ini? 😂

Buat yang suka main hati Instagram kayanya udah seringlah ya lihat pernyataan ini.

Ada banyak alasan sih kenapa orang-orang pada suka minta polbek-polbek, ya salah satunya buat nambah-nambah follower, karena zaman now ini followers itu salah satu hal yang 'diperhitungkan' (katanya).  Bahkan kalau udah banyak bisa dijual kan yah? Jualan followers jadinya😁

Kenapa? Sebenernya tergantung niat kita sih. Sering dong kita denger kalau Ustadz lagi ceramah bilang kalau followers kamu itu juga bisa jadi ladang amal untuk kamu, dan bisa juga jadi ujian buat kamu. Kelak kamu akan mempertanggungjawabkan apa aja yang udah kamu share ke followers kamu. Hal baik kah? atau sebaliknya? Tuh kan jadi ceramah

Tapi sebenernya aku ga mau bahas tentang followers, tapi mau bahas Geng "Kak Folback Dong"

Whehe, kayanya geng ini lebih hits dari geng anak motor loh 😁

Kadang aku heran sama geng ini, apalagi yang suka buat komen "Kak Folback Dong" di postingan akun Instagram artis-artis. Entahlah niatnya cuman ngerameiin komentar atau emang bener2 niat minta dipolbek.🙈

Padahal kalau dipikir-pikir, jarang (kemungkinan gak ada) loh selebritis/selebgram yang mau ngepolbek orang-orang yang dia ga tau asal usulnya dari mana hehe 

Kenapa kita harus pilah-pilih orang yang harus kita follow?

Gaes, di zaman now ini mungkin hal yang paling sering kamu lihat tiap harinya adalah timeline akun sosial media kamu. Iya gak? iyain aja deh Jadi kamu ga mau dong kalau apa yang kamu lihat tiap harinya adalah hal hal yang ga bermanfaat. Misalnya nih bayangkan kalau tiap harinya di timeline sosmed kamu yang muncul foto-foto orang selfie mulu. Dan terus kamu juga jadi pengen deh aplut aplut foto selfie kamu, menular kan yah😨 Ini masih contoh loh yah, tapi gimana kalau hal-hal yang buruk?


Jadi ada benernya perkataan seseorang tentang 
"Kamu adalah apa yang kamu baca
"Kamu adalah siapa yang kamu Follow"


Aku juga beberapa kali dapat pernyataan minta folbek dari beberapa orang. Sebenernya agak segan mau nolak atau diabaikan. Walaupun itu teman aku sendiri.

Alasannya bukan karena kita sombong atau gimana, alasan utamanya itu dia yang tadi, Aku pribadi pengen timeline aku rapi dan isinya baik dan yang memang menarik buat aku hehe dan bukan berarti kalian yang ga aku follow balik adalah orang-orang ga baik yah. hehe

Aku pribadi lebih suka ngefollow official akun atau kaya akun public figure (bukan selebritis) misal kayaknya orang-orang pegiat sosial, artist (bukan aktris yah) pokoknya akun-akun yg kayak begitu lah hehe.

Intinya sih buat temen-temen yang sampai sekarang masih tergabung dalam Geng "Kak Folback Dong", segeralah bertobat hehe  kita semua harus faham tiap orang punya kebebasan tersendiri mau ngefollow siapa tanpa harus dihantui dengan rasa segan dan semacamnya kalau ga ngefolback, 

Biarkanlah tiap orang memilih sendiri siapa aja yang mau difollownya dan biarkan ia menata isi timeline sosial medianya tanpa rasa terbebani :)

Kalau ada yang ngerasa "Kok urusan folback ngefolback terlalu dipikirkan kali ya?"  Tapi Kawan, memang begitulah zaman now ini. Interaksi dan aktivitas kita kadang lebih banyak di dunia maya dibandingkan di dunia yang sebenarnya😊


Jazakumullah khoir, semoga tulisan yang agak singkat ini dapat menyadarkan kita semua dalam urusan follow ngefollow hehe😊

Monday, January 15, 2018

Upe Minjemin Buku


Bismillah,

Jadi setelah sekian bulan gak beberes lemari alhamdulillah akhirnya dapat waktu luang juga untuk beberes lemari. Ternyata setelah dilihat-lihat yang menguasai lemari baju ini ternyata bukan pakaian. 😁Tapi malah beberapa buku koleksi dari tahun 2014 (awal kuliah). Dan akhirnya aku memutuskan untuk memberikan mereka 'tempat tinggal' baru walau ga besar-besar amatlah. hehe

Penampakan lemari buku anak kos 🙈
Terus aku mikir, buku sebanyak (padahal ga banyak) ini sayang kalau cuman 'diendapin' aja setelah aku baca. Walaupun belum semua juga sih yang aku baca hehe maklum sok sibuk.😂

Jadilah terlintaslah ide untuk meminjamkan buku-buku ini ke kawan-kawan sekalian yang ada di sekitaran Medan. Hitung-hitung jadi ladang pahala. hehe 

Buat yang di daerah Labuhan Batu tepatnya Aek Nabara, aku juga punya beberapa buku yang 'terendap' di rumah. insyaAllah nanti juga akan aku buat list, mana tau anak Aek Nabara ada yang mau minjam, tapi kalau koleksi buku yang di rumah mungkin sih kebanyakan novel sama komik, ya maklumlah itu koleksi zaman esempe sama esema.😂

Tapi, ada tapinya nih. Aku buat beberapa persyaratan untuk yang mau minjam, ga sulit kok, ↡↡

1. Amanah, kamu harus ngejaga bukunya jangan sampai rusak atau hilang. Jangan dicoret-coret juga yah hehe
2. Mulangin Tepat Waktu, untuk waktu peminjaman sesuai kesepakatan, dilihat dari jumlah halaman buku.
3. Jangan Dioper-oper (bener ga sih tulisannya?), Apalagi tanpa lapor dulu.😭

Nah, ga sulit kan?

LIST BUKU ADA DISINI

Kalau Mau Minjam Langsung aja KESINI